Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Logo Berita L2007 NTS Dinamis

Wakapolda Sumbar Tekankan Pencegahan Bullying dan Tawuran di Kalangan Santri



PADANG – Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Wakapolda Sumbar) Brigjen Pol. Solihin, S.I.K., M.H., CSPHR, mengajak para santri berperan aktif mencegah tawuran, perundungan (bullying), dan berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.


Ajakan tersebut disampaikan saat pembukaan kegiatan Seribu Santri untuk Negeri sekaligus Dies Natalis ke-60 Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Kamis (29/10/2026), di Gedung J, Kampus III UIN Imam Bonjol Padang.


Kegiatan itu dihadiri sejumlah pejabat utama Polda Sumbar, pimpinan UIN Imam Bonjol Padang, Kapolsek Koto Tangah, serta para santri dari berbagai daerah di Sumatera Barat.


Dalam kesempatan tersebut, Solihin menegaskan bahwa tawuran, penganiayaan, dan pengeroyokan bukan sekadar persoalan kenakalan remaja. Apabila perbuatan tersebut memenuhi unsur tindak pidana, penanganannya harus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.


Menurutnya, tawuran kerap berawal dari persoalan sederhana, kesalahpahaman, atau ajakan kelompok yang kemudian berkembang menjadi kekerasan. Dampaknya tidak hanya merugikan pelaku dan korban, tetapi juga dapat mengganggu keamanan serta ketertiban masyarakat.


Karena itu, para santri diharapkan mampu menjadi teladan bagi lingkungan pergaulannya dengan mengedepankan sikap saling menghormati, menyelesaikan perselisihan secara damai, dan menolak ajakan melakukan kekerasan.


Wakapolda juga menyoroti pentingnya pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan. Ia mengingatkan bahwa bullying, baik secara langsung maupun melalui media sosial, dapat berdampak terhadap kondisi psikologis, proses pendidikan, dan masa depan korban.


Lingkungan sekolah dan pesantren, menurutnya, harus menjadi ruang yang aman bagi peserta didik untuk belajar, mengembangkan potensi, serta membangun persaudaraan tanpa intimidasi maupun tindakan merendahkan orang lain.


Para santri juga didorong untuk tidak ikut menyebarkan konten perundungan dan berani melaporkan kepada guru, pengasuh, atau pihak berwenang apabila mengetahui tindakan kekerasan yang berpotensi membahayakan orang lain.


Dorong Penanganan Anak yang Mengedepankan Pembinaan


Dalam sesi dialog, Wakapolda turut menanggapi pertanyaan santriwati mengenai perbedaan pandangan di tengah masyarakat terkait LGBT, nilai-nilai agama, dan hak asasi manusia.


Ia menekankan pentingnya menyikapi perbedaan secara bijaksana. Dalam menjalankan tugas, Polri harus bertindak profesional, berpedoman pada hukum, menjaga ketertiban umum, serta memberikan perlindungan dan perlakuan yang sama di hadapan hukum.


Solihin juga menekankan bahwa penanganan anak yang berhadapan dengan hukum perlu memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak dan masa depannya. Pendekatan keadilan restoratif (restorative justice) dapat diterapkan apabila memenuhi persyaratan serta ketentuan hukum yang berlaku.


Menurutnya, pembinaan anak membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, guru, sekolah, pengasuh pesantren, hingga masyarakat di lingkungan tempat tinggal.


Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu anak memperbaiki perilaku, memahami konsekuensi tindakannya, dan kembali berkembang menjadi pribadi yang lebih baik tanpa mengabaikan ketentuan hukum.


Sinergi untuk Lindungi Generasi Muda


Melalui kegiatan Seribu Santri untuk Negeri, Wakapolda Sumbar berharap para santri tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan agama, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, karakter yang kuat, serta keberanian untuk mencegah kekerasan di lingkungan sekitarnya.


Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara kepolisian, perguruan tinggi, pesantren, keluarga, tenaga pendidik, dan masyarakat.


Sinergi tersebut diharapkan mampu menekan potensi tawuran dan perundungan sekaligus membangun lingkungan belajar yang kondusif, menjunjung tinggi persaudaraan, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda secara positif.


Dengan demikian, santri dapat mengambil peran strategis sebagai pelopor perdamaian, penjaga persatuan, dan generasi penerus bangsa yang berakhlak serta bertanggung jawab.

Sumber : Humas Polda Sumbar
Editor : Rid1

Crunchy 88 Fried Chicken dan Ayam Geprek
Crunchy 88 Fried Chicken dan Ayam Geprek